Di Mana Tempat Penuh Bunga Itu Berada? (DRAFT)
***
Angin malam bersikap anarkis, menyerang apapun yang dilaluinya. Beruntung Agus mengenakan pakaian yang mampu menahan serangan tersebut. Kala sejumlah orang yang tidak ada di ruangan tertutup seperti lelaki yang baru genap kepala tiga ini menggigil kedinginan sehingga harus menggosokkan tangan satu dengan tangan lain untuk memberi sedikit kehangatan, dia hanya duduk solid sambil menatap bulan berbentuk seperti pisang serta bintang yang jumlahnya terlalu sedikit untuk disebut bertaburan. Tidak ada orang di halte ini selain dirinya untuk sekarang. Wajar saja, ini sudah masuk pukul sembilan lebih. Jam pulang kerja sudah berlalu.
Sebetulnya beberapa menit lalu hadir manusia lain di sini, seorang pemuda. Namun, selesai mengembalikan gagang telepon umum ke tempat semula dia menghilang bak lalat yang terbang selagi hendak ditangkap oleh manusia. Kala dia pergi sekilas terlihat kemuraman di wajahnya, sama seperti yang ditunjukkan Agus sekarang. Walaupun sama-sama muram, tentu penyebab keseduan antara dua laki-laki tersebut berbeda. Mode muram di wajah si pemuda aktif berkat seorang wanita yang berperan sebagai pacar di kehidupannya menyudahi ikatan asmara di antara mereka via panggilan telepon. Sementara muram di wajah pria bernama Agus terjadi berkat serangkaian peristiwa kurang sedap yang tersantap olehnya belakangan ini.
Semua bermula dari tiga bulan lalu kala Agus yang ingin memulai usaha berjualan soto ayam menyerahkan sejumlah modal pada Teguh, kenalan sekaligus mitra usahanya, berujung kena tipu. Teguh pernah bertutur bahwa dia sudah membeli gerobak, membayar upeti pada preman penguasa Jalan Damai supaya disediakan lahan di tepi jalan untuk mereka berdagang bersama kaki lima lain, tak lupa turut rampung membeli alat. Dia menuturkan kalimat tersebut tanpa menunjukkan bukti baik fisik barang maupun kwitansi. Agus yang sudah mengenal Teguh dalam jangka waktu lama menaruh kepercayaan penuh pada setiap perkataan kenalannya tersebut. Empat hari berlalu, tetapi tidak kunjung ada kabar dari Teguh. Padahal dia turut bertutur bahwa hanya butuh satu hari untuk membeli bahan membuat soto ayam. Menghadapi situasi tersebut Agus mencoba menghubungi Teguh via telepon.
“Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi,” tutur wanita yang tidak diketahui Agus.
Tidak berhenti hingga di situ, Agus berusaha menghubungi Teguh dengan langsung mendatangi rumah kontrakannya. Namun, ibu empunya kontrakan memberi kabar bahwa Agus sudah keluar dari sana.
“Pindah ke mana ya, Bu?”
“Nggak sempat nanya, mereka pindahnya buru-buru.”
Teguh lenyap bak ditelan bumi. Dia tidak lenyap sendirian, tetapi bersama istri, dua anak, serta tidak lupa uang sejumlah jutaan rupiah milik Agus. kala sudah tersadar bahwa dirinya sudah tertipu Agus memiliki keinginan besar meninju wajah Teguh. Sosok tersebut sudah membuatnya menjual sepeda motor Suzuki Bravo yang biasa digunakan mencari nafkah sebagai tukang ojek untuk modal usaha yang berujung mengenaskan bagi dirinya. Sedih bagi Agus kala disuguhkan fakta bahwa dia tidak berhasil mendapat mata pencaharian baru lantas diperburuk dengan kehilangan mata pencaharian lama.
Selagi meratapi nasib sialnya tersebut, Agus mendapat sebuah berita tidak mengenakkan. Peristiwa nahas sudah menimpa mobil angkutan yang ditumpangi ibu serta adik satu-satunya kala hendak pergi ke pasar. Mobil tersebut tertumbuk oleh truk besar yang alami rem blong di suatu simpang empat di kampung. Roda-roda pada truk besar berlari teramat cepat bak kaki-kaki banteng kala mengejar matador yang mengacungkan kain merah. Alhasil, mobil tersebut ringsek hingga kehilangan wujud asal serta sejumlah manusia yang berada di dalamnya kehilangan nyawa. Tentu tidak termasuk adik Agus mengingat dialah yang memberi tahu berita duka tersebut pada sang kakak. Namun, ibunya termasuk.
Berita tersebut membuat Agus nelangsa teramat dalam bak Palung Mariana. Kala panggilan seluler dari adiknya selesai, dia menangis dengan keras dalam tempo berjam-jam. Dia merasa hancur. Kala itu dia masih tidak mampu percaya bahwa sosok nomor satu paling dia cintai, sayangi, kagumi, kasihi, hormati sudah pergi dari dunia manusia. Selagi kedua mata Agus mengeluarkan air sementara mulutnya mengerang serta sesekali berteriak memanggil ibunya, otaknya memutar sejumlah memori acak dirinya bersama sang ibunda. Memori kala ibu mengantarnya ke taman kanak-kanak dalam rangka hari pertama masuk sekolah dalam hidupnya. Memori kala ibu mendongeng kisah kecerdikan kancil padanya di depan lilin menyala bersamaan dengan pemadaman listrik bergilir yang tengah terjadi pada masa SMA yang turut merupakan pacar pertama dalam hidupnya. Memori kala ibu memarahinya akibat ketahuan bermain judi kartu serta sabung ayam di belakang pasar dekat rumah mereka di kampung. Memori kala ibu bertengkar dengannya mengenai keputusan dirinya bertolak ke kota ini dalam rangka mengadu nasib. Memori kala ibu memberi sejumlah wejangan sebelum hari pernikahannya dengan gadis bernama Ulfa.
Isaknya terhenti kala Agus sadar bahwa dia harus pulang menyambangi ibunya untuk kali terakhir, tetapi tidak memiliki ongkos memadai. Maka bergerak cepat dia ke sana kemari mencari manusia yang memiliki uang lebih sehingga dapat meminjamkan sedikit padanya. Pencarian tersebut berujung pada perjumpaannya dengan kakak ipar yang akhirnya menyodorkan sejumlah uang walaupun dirinya harus memohon serta memelas terlebih dulu. Malam pada hari yang sama dia melangsungkan perjalanan ke kampung memakai bus besar. Tentu dia pergi sendirian tanpa istrinya turut serta mengingat uang iparnya hanya memberi dana cukup untuk biaya tiket pulang pergi sebanyak satu kepala serta sisanya yang sedikit diperuntukkan untuk tambahan biaya acara tujuh serta empat puluh harian nanti.
Tindakan yang pertama sekali Agus lakukan kala berhadapan dengan jasad ibunya sudah pasti menangis sangat keras, bahkan lebih keras dari satu tangisan terdahulu. Seperti tidak cukup dengan dua kali acara menangis, dia melangsungkannya kembali di banyak kesempatan. Satu yang paling emosional terjadi kala dirinya menyerukan adzan sementara jasad ibunya ditempatkan ke liang lahat. Momen tersebut sungguh menyulut sedu baginya sehubungan dengan kali terakhir dirinya memiliki kesempatan memandang wajah bersinar milik ibu.
Selesai prosesi pemakaman, bahkan hingga esok-esoknya, Agus belum mampu legowo mengenai kepergian ibunya. Dalam tempo bersamaan dia turut belum mampu kembali ke kota ini. Dia harus bantu-bantu adiknya sesuatu apapun yang sekiranya dapat dibantu olehnya. Selesai membantu mengurus sejumlah keperluan serta pekerjaan dia menetapkan akan segera bertolak kembali kembali. Masih ada sejumlah urusan yang harus diselesaikan di kota perantauan. Seperti memburu Teguh serta mengambil uangnya kembali, mencari pekerjaan supaya mendapat upah yang akan digunakan untuk membayar hutang pada ipar serta pemilik kelontong dekat rumah kontrakannya, tidak lupa urusan mengejawantahkan syahwat bersama istrinya.
Agus nyaris berjumpa tujuan akhir kala berhasil menelan perjalanan relatif lama memakai masing-masing satu bus besar serta bus kecil. Dia menyusuri jalan setapak yang sedikit becek akibat guyuran hujan. Berjalan belasan meter melewati sejumlah rumah kecil yang bersesakkan sepanjang gang. Sekujur kakinya berhenti mencipta jejak kala tiba di muka pintu kayu rapuh bertempelkan sejumlah wajah politisi dalam bentuk stiker.
Alih-alih segera memutar engsel supaya dapat temu kangen dengan istri, berkisah rinci mengenai kematian ibu serta apa-apa saja yang terjadi kala berada di kampung, serta merilis unek-unek apapun yang mengganjal di kepala sehingga dapat didiskusikan bersama istri dalam rangka mencari jalan keluar seperti yang terbesit dalam bayangnya kala tengah dalam perjalanan kembali, Agus hanya tegap mematung bak manekin di gerai busana. Indra pendengarnya fokus menangkap suara dari balik pintu, lagu pop berbahasa asing yang diduga berasal dari mini compo miliknya serta desahan manusia yang diduga berasal dari istrinya.
Agus mendobrak pintu teramat kasar. Dia menjumpai pemandangan yang teramat menyesakkan. Indra penglihatannya menangkap gambar Ulfa tanpa sehelai benang tengah berhubungan badan bersama manusia bertitit yang tidak diketahuinya. Desahan Ulfa diiringi kata “enak banget” serta “aku sayang abang” yang sudah tertangkap sebelumnya memberi isyarat bahwa istrinya tengah bersenggama serta tidak sedang diperkosa. Peristiwa tersebut terjadi tepat di atas kasur bergambar salah satu klub sepak bola luar negeri tempat Ulfa biasa melangsungkan tindakan yang sama dengannya. Kehadiran manusia bernama Agus membuat tindakan mereka terhenti. Tentu wajah keduanya panik serta ketakutan.
Kepalan tangan Agus melesat ke wajah yang tak dikenal. Manusia asing tersebut mengerang kesakitan akibat pukulan yang diterima. Seperti belum puas, Agus melancarkan bogem mentah kedua dengan sasaran yang sama. Tentu saja rintihan tersebut kembali hadir, kali ini diiringi tuturan memohon ampun. Ulfa yang sedari tertangkap basah memilih berlindung di balik selimut mendapat serangan dari Agus berupa bentakan. Di sana Agus meneriakkan berbagai varian kata kasar serta kata makian yang terlintas di kepalanya. Sementara Agus sedang marah dahsyat pada Ulfa, manusia asing mengambil kesempatan untuk sesegera mungkin mengenakan pakaian kembali serta minggat dari lokasi. Ulfa memohon ampun serta maaf diiringi tangisan melas. Dia mengaku dirinya sudah khilaf serta teramat bodoh. Dia turut berjanji akan perbaiki perilakunya serta tidak akan mengulangi perbuatan kotornya. Namun, Agus tidak menggubris kata-kata istrinya. Amarahnya yang kala itu mendidih membuat dirinya tidak mampu berhenti menghardik istrinya.
“Pergi dari sini lo, Anjing!” pekik Agus teramat keras, “Sana lo ikut sama laki-laki itu, dasar lacur!”
Ulfa meminta Agus untuk membicarakan masalah tersebut dengan kepala dingin. Agus menolaknya serta kembali menyerukan sejumlah kalimat bernada usiran untuk istrinya. Tidak hanya verbal, tindakan mengenyahkan turut dilakukan dengan mengemas barang-barang milik istrinya ke dalam tas travel. Dia menyerahkan tas tersebut sementara lisannya kembali mengusir, tentu dengan kasar. Bahkan sampai menyeru kata “cerai”.
Ulfa menyapu sisa air mata memakai lengan, “Nggak rugi gue pergi dari sini. Dasar miskin. Mandul.”
Selesai merampungkan tuturan kalimat tersebut dengan tersengguk, Ulfa yang sudah berada di ambang pintu menjinjing tas untuk hengkang dari lokasi. Agus tidak mencegah kepergian tersebut. Dia lebih memilih mengambil duduk leseh pada salah satu sisi ruangan. Raut yang terpampang di wajahnya memberi isyarat sejumlah rasa bercampur aduk. Kedua tangannya mengacak rambut dengan kasar sementara mulutnya berteriak keras. Air mata terjun bebas dari matanya.
Esok-esoknya tindakan Agus diisi dengan mengurung diri di dalam rumah sempit sewaan yang belum dibayar dalam tempo lebih dari satu bulan. Sesekali dia keluar kala persediaan mie instan atau air minum di markas tidak bersisa. Tentu tindakan tersebut tidak sesuai salah dua maksud awal dirinya kembali ke kota ini. Depresi yang melanda dirinya mengalahkan semangat untuk memburu Teguh serta mencari pekerjaan. Dia merasa hancur berkeping-keping bak vas keramik yang terjun dari atas meja akibat semua yang menimpanya. Tambah parah kala dirinya tenggelam tanpa ada manusia lain yang berkenan mendengar curahan hatinya. Satu-satunya manusia yang bersedia mengambil peran sebagai kawan berkisah baginya walaupun dalam sejumlah tahun belakangan sudah tidak lagi, sudah dirinya perintahkan pergi. Fenomena mengurung diri terjadi dalam tempo lama hingga berakhir pada suatu sore kala empunya kontrakan menagih biaya sewa bulan kedua untuk kesekian kali. Tentu Agus yang sedang tidak memiliki cukup uang untuk membayar hanya mampu memohon maaf.
“Minggu lalu maaf, tiga hari lalu maaf! Ini sudah jalan tiga bulan! Kalau nggak bisa bayar mending sekarang kemasin barang aja!”
“Jangan, Pak. Kasih saya waktu satu hari lagi. Besok banget serius bakal saya bayar semua.”
Pemilik sewaan memberi kesempatan terakhir.. Dia mengabulkan permintaan Agus, tetapi turut mengeluarkan ultimatum bila dalam tempo maksimal satu kali dua puluh empat jam dari percakapan tersebut penyewa harus angkat kaki tanpa membawa barang apapun kecuali pakaian sebagai pengganti biaya sewa. Tidak disuguhkan pilihan lain membuat Agus terpaksa sepakat. Agus tidak ingin diusir sebagaimana dirinya mengusir Ulfa. Dia ingin tetap tinggal mengingat tidak tahu harus mencari mukim di mana.
Malam pada hari yang sama dia menyambangi kediaman nyaris semua manusia berkecukupan yang dikenalnya. Dia membuahkan rasio seratus persen tertolak kala menerangkan maksud kedatangan dirinya para semua manusia yang disambangi termasuk ipar yang sudah meminjamkan uang sebelumnya. Semua menuturkan alasan seragam: Sudah teramat banyak pinjam. Penolakan tersebut membuat dirinya nyaris pasrah mengenai pengusiran. Namun, dalam pemikiran lain dia tidak rela semua barang dalam rumah harus ditinggalkan bila terpaksa hengkang. Akumulasi harga barang-barang di sana nilainya sedikit melampaui sewa dua bulan. Tentu rugi bila harus menyerahkan begitu saja. Lagipun, dia teramat sayang pada mini compo serta televisi tabung delapan inci yang berperan sebagai hiburan satu-satunya di kota yang menyesakkan ini. Dirinya sadar akan sulit membelinya lagi melihat kondisi saku kala itu. Situasi tersebut membuat Agus menetapkan akan pergi menjumpai Gugun pagi pada hari berikutnya.
Gugun bukan manusia berada. Lagipun maksud Agus bukan ingin meminjam sejumlah uang pada manusia dengan nama asli Gunawan tersebut. Agus ingin meminta pekerjaan bila ada. Maka bersamaan dengan kedatangan sang surya dirinya pergi menjumpai kawan yang dimaksud. Di tengah perjalanan menuju rumah Gugun, tiba-tiba benaknya memikirkan Ulfa. Lokasi keberadaan, kondisi perut, serta kondisi kesehatan Ulfa jadi pertanyaan dalam batinnya. Namun, kala benaknya teringat adegan keji yang dilakukan oleh mantan istri seketika dia berhenti cemas. Kabar gembira untuk Agus kala Gugun bertutur ada lowongan di tempatnya bekerja. Profesi sebagai kuli bangunan. Dengan cepat dia menerima tawaran tersebut.
Mandor memberi sejumlah uang pada Agus. Wajah Agus berbinar kala menerimanya. Sebelumnya dia sudah memohon pada mandor untuk memberinya upah di muka. Tentu disertai mengisahkan lara yang sudah dilaluinya dengan mimik melas. Agus yang lihai dalam hal tersebut membuat hati mandor luluh. Ditambah Gugun yang berkenan jadi jaminan meneguhkan putusan mandor. Agus segera membayar tunggakan pada empunya kontrakan sepulang dari kerja. Walaupun baru lunas separuh, tetapi cukup untuk mencegahnya angkat kaki
Masalah dengan pemilik sewa selesai. Namun, masalah baru datang. Hari kelima bekerja Agus kembali bernasib tidak baik. Dia jatuh dari lantai tiga pada rumah yang sedang dikerjakan. Kedua tangan serta kakinya refleks jadi tumpuan, tetapi dirinya jatuh teramat cepat sehingga kecelakaan tidak terelakkan. Pergelangan tangan kanannya patah. Lutut kiri bergeser dari lokasi semula. Betis pada kaki yang sama alami keretakan. Kejadian tersebut sekaligus menyudahi karirnya sebagai tukang bangunan. Dia baru akan pulih dalam tempo yang lama. Mandor yang tidak ingin membuang waktu serta uang memilih mencari pengganti. Dia meminta Agus segera memulangkan uang yang sudah diberikan sebelumnya atau sebagai gantinya gaji Gugun tidak diberikan. Agus sudah memohon supaya tidak dirumahkan. Dia turut berjanji akan tetap kerja normal walaupun kondisi jauh dari kata sempurna. Mandor tidak yakin Agus mampu bertugas melihat kondisinya yang untuk berjalan saja perlu penyangga. Sehingga sebaik apapun Agus dalam memohon tetap saja tidak dikabulkan mandor. Pemimpin proyek tersebut menolak mengambil risiko lebih jauh.
“Jangan telat balikin duitnya. Kalau telat nanti gaji gue yang ditahan. Anak istri gue butuh makan, Gus.”
“Iya, secepatnya dibalikin. Ini mau langsung cari kerja lagi. Lo ada gak?”
“Gak ada, hari-hari gini kerjaan susah.”
Mimik Agus kecewa. Dia pergi tanpa kata.
“Jangan telat, Gus!” tutur Gugun yang tidak disambut apapun oleh Agus.
Esok-esoknya belum ada pekerjaan yang berkenan meminang Agus. Dia sudah melamar ke banyak lokasi. Dari tempat kerja ber-AC sampai sebuah gudang barang yang pengap bukan main. Dari harus berbusana formal kala melamar sampai mengenakan pakaian bebas, rapi, asal sopan. Semua dirinya lakukan dengan mendapat balasan berupa kenihilan. Alasan penolakan bervariasi, tetapi mayoritas berkaitan dengan kondisinya yang belum pulih pasca kecelakaan. Dia merasa sudah menjadi orang paling tidak bahagia di semesta. Tentu kekhawatiran hinggap di sekujur tubuhnya. Khawatir akan kehidupannya esok-esok. Uang, cobaan yang pasti datang, kesendirian. Khawatir Gugun akan marah besar akibat sudah membuat gajinya ditahan. Khawatir akan tinggal di bawah jembatan. Khawatir batuk diiringi darah yang kerap dialaminya belakangan ini sebagai gejala awal penyakit ganas.
“Terakhir, Mas. Di terminal udah gak ada lagi,” suara kernet PPD memecah lamunan Agus.
Agus menggeleng tangan, “Nggak.”
Bis kabur sementara Agus masih duduk solid, kali ini sambil menatap pepohonan di seberang jalan berdansa bersama angin. Larut malam nanti rencananya Agus akan melangsungkan sebuah kegiatan menghibur diri sendiri. Namun, dia bingung harus pilih yang mana. Entah merebah diri sambil mendengar album Doel Sumbang atau memasukkan kepala pada tali yang menggantung sambil meneriakkan kalimat “Hasta la vista, Baby!”

Komentar
Posting Komentar