Kabar Mengejutkan Pagi Ini (DRAFT)

 ***


Salah satu hal yang sangat, paling, dan begitu saya takuti adalah kematian. Saya tak mampu membayangkan macam mana rasanya ketika perlahan tapi pasti napas mulai terasa susah dan semakin lama semakin membuat tersengal-sengal hingga akhirnya berhenti, ketika pandangan mulai kabur lalu detik demi detik semakin tak jelas apa yang dipandang hingga semuanya gelap gulita, begitu pula ketika nyawa saya sedikit demi sedikit lepas dari tubuh hingga sepenuhnya telah tercabut oleh malaikat maut. Entah ketika menjalani proses tersebut saya akan merasa sakit luar biasa atau tak, tetapi yang jelas hanya dengan membayangkannya sahaja sudah berjaya buat saya bergidik.

Tak hanya masa prosesi pencabutan nyawa yang buat saya takut akan kematian. Masa selepasnya yaitu ketika mayat sudah berada di dalam tanah pun demikian. Takut kalau amal buruk saya selama hidup di dunia ternyata begitu banyak hingga mendapat konsekuensi berupa siksa kubur. Tak perlu dibayangkan macam mana proses dan cara kerja siksa kubur sebab mendengar dua kata itu sahaja sudah buat saya gemetar hebat. Dari kata ‘siksa’ sahaja saya dapat tahu kalau itu merupakan sesuatu yang dahsyat dan mengerikan.

Bercakap pasal kematian, pernah sekali saya nyaris berjumpa dengannya. Kejadian itu masa saya masih tinggal bersama kedua orang tua di kampung di pulau sebrang dan baru berusia lima tahun. Siang menjelang sore hari itu saya merengek kepada Rahman, abang saya untuk ikut dengannya bermain di sungai bersama kawan-kawan sebayanya. Mulanya ia tak mau saya ikut dengannya sebab malas. Ia cakap pula bahwa ibu tak akan bagi izin saya pergi ke sungai. Saya yang ingin sangat main di sungai pun usul agar pergi diam-diam alias tak perlu bagi tahu ibu. Saya terus desak abang dengan kalimat-kalimat paksaan tanpa henti. Mungkin sebab rasa bising dengar celoteh saya, maka ia tak mau ambil pening dan akhirnya saya boleh ikut.

Setiba di tepi sungai, nampak arus sungai tenang sehingga aman untuk anak bertubuh kecil seperti saya. Perlahan kedua kaki saya mulai masuk ke dalam air. Semakin menuju ke tengah semakin dalam. Masa sudah sampai tengah dekat beberapa kawan abang yang semuanya jantan, air sudah setinggi leher. Itu untuk saya. Untuk remaja seperti abang dan kawan-kawannya, kedalaman air hanya sampai sekitaran paha atau pinggang.

Selepas membuka baju saya mulai berenang ke sana kemari dan ikut berbuat aktivitas yang abang dan kawan-kawannya buat, macam adu cepat berenang menuju jarak yang sudah disepakati, bermain percik-percik air, lalu adu gaya renang. Teguh, salah satu teman abang yang baru saya tahu hari itu kembali ajak bermain. Ia usul adu tahan napas dalam air. Semua setuju.

Saya berada di urutan paling buncit sebab hanya bertahan tujuh detik sahaja dan masa kepala balik ke permukaan saya tak nampak kepala lain. Beberapa detik selepas itu terangkat kepala Nazril, salah satu kawan abang yang baru saya tahu namanya tadi. Disusul oleh Teguh tak lama berselang. Dari kejauhan saya nampak arus deras air tiba-tiba datang, bergerak sangat cepat ke arah kami. Secepat kilat arus deras itu menerjang kami. Terlihat Nazril dan Teguh panik sehingga segera coba selamatkan diri. Sementara lima orang lain yang masih menahan napas—salah satunya abang—terhempas begitu kuatnya sebelum mereka buat hal yang sama seperti Nazril dan Teguh.

Sementara saya? Tubuh yang kecil membuat mudah arus deras untuk menjauhkan saya dari kawanan dengan sekejap. Tinggi air terus naik, dari sebelumnya setingkat leher, dengan cepat naik ke dagu lalu mulut. Saya yang pada masa itu panik luar biasa sebab takut tenggelam segera mengerahkan semua tenaga untuk coba berenang ke tepian. Tapi sayang arus deras terlalu perkasa untuk saya sehingga saja tetap saya terseret begitu cepat. Tenaga saya terkuras. Tubuh terasa begitu lemas. Napas saya tersengal-sengal sebab kelelahan ditambah tinggi air sudah menenggelamkan hidung, lalu mata, lalu alis, lalu dahi. Samar-samar nampak abang menerjang arus untuk menyelamatkan saya selepas ia meneriakkan nama saya berkali-kali.

Saya cungap-cungap ke arah permukaan, mencoba mengambil napas. Tapi semakin lama semakin susah. Air naik begitu cepat hingga membenamkan semua bagian tubuh saya kecuali kedua telapak tangan yang masih terlihat sebab saya mengangkat tangan untuk memberi tanda keberadaan saya.

Tenggelam. Membuat hidung tak mampu bernapas dan membuat mata sakit lalu perlahan pandangan kabur. Dengan sisa tenaga yang sudah hampir habis saya mencoba berenang ke atas. Tapi sampai tenaga habis saya tak pernah betul-betul berjaya permukaan sebab sepertinya air terus naik. Saya tenggelam lebih dalam. Masa itu muncul gejala yang tak diinginkan. Dada saya terasa sakit teramat sangat. Pandangan yang sudah kabur dibuat lebih kacau hingga nyaris gelap. Saya sudah sangat pasrah kalau ajal sudah menjemput masa itu sebab sudah tak dapat berbuat apa-apa lagi. Berangsur-angsur kesadaran mulai hilang. Tapi sebelum hilang semua, tiba-tiba tangan saya ditarik oleh seseorang. Dengan cepat seseorang itu membawa tubuh saya menerobos derasnya aliran air, melipir ke tepian lalu naik menuju daratan. Saya dapat bernapas kembali, tentu dengan tersengal-sengal hebat. Begitu pula Teguh, orang yang menarik saya hingga keluar sungai. Tiga puluh enam tahun sudah kejadian hari itu berlalu. Bersyukur saya masih diberikan kesempatan hidup.

Beberapa hari lepas tepatnya masa sedang duduk di bangku kemudi seraya menunggu mikrolet ramai terisi penumpang, tiba-tiba saja saya terpikir pasal tiga siswi sekolah menengah pertama yang kerap naik mikrolet saya bersama-sama untuk membawa mereka menuju sekolah. Pada pagi di hari yang sama saya melewati halte tempat mereka biasa menunggu mikrolet dan tak dapat menjumpai keberadaan mereka di sana, persis macam hari-hari sebelumnya. Dari situ saya tersadar bahwa mereka sudah lama tak naik mikrolet saya. Entah berapa lama tepatnya, saya yakin sudah tak nampak mereka berpekan-pekan. Padahal, dari enam hari sekolah dalam sepekan biasanya ada satu kali dimana mereka naik mikrolet saya. Malah terkadang dapat lebih yaitu sampai dua atau tiga kali mengingat jumlah armada mikrolet bernomor serta rute yang sama dengan saya hanya sedikit dibandingkan mikrolet bernomor dan rute lain sehingga penumpang yang sudah sering naik kemungkinan akan sering berjumpa sopir yang sama. Mungkin akhir-akhir ini mereka tidak berjodoh naik mikrolet saya lalu akhirnya naik mikrolet lain, pikir saya.

Tempo hari masa naik mikrolet saya, mereka sering bercakap-cakap pasal bermacam hal. Terkadang saya ikut bercakap bersama mereka kalau kebetulan saya tahu topiknya. Suatu hari kami pernah bercakap pasal d’Masiv. Lain hari bercakap seputar saling tukar kertas binder dan sahabat pena. Esoknya membahas serial kartun Ninja Hattori. Dan macam-macam topik lainnya. Sebab sering bercakap bersama saya pun akhirnya tahu nama mereka. Yang rambutnya selalu kuncir dua dan paling tinggi di antara ketiganya dipanggil Ica. Yang berbadan gemuk dan mudah tertawa dipanggil Naila. Yang berjilbab dan punya banyak cerita dipanggil Ratih.

Tiap kali nampak mereka membuat saya teringat Syifa. Ia anak pertama saya yang sebaya dengan mereka tapi beda sekolah. Acapkali ia bercerita apapun kepada saya, macam sekolah, kawan-kawannya, serial kartun, mainan, lagu, dan banyak lagi. Itulah yang membuat saya sedikit banyak dapat mengikuti pembicaraan Ica, Naila, dan Ratih.

“Udah penuh, Bos,” cakap Rizal.

         Masih dari bangku kemudi, kepala saya sedikit berputar ke belakang dan nampak sudah banyak penumpang. Saya memberi selembar uang kepada Rizal sebagai imbalan sebab ia telah meneriakkan rute tujuan serta menuntun orang-orang untuk naik mikrolet saya. Selepas itu saya segera menyetir mikrolet keluar dari terminal.

- - -

         Esoknya saya kembali melewati halte itu pada jam berangkat sekolah. Masih tetap tak ada mereka di sana. Hanya ada seorang pemuda yang hanya duduk diam dan seorang wanita seumuran istri saya yang beranjak dari duduknya lalu naik ke mikrolet saya. Wanita itu kerap naik mikrolet saya untuk diantarkan menuju sebuah pasar.

         Esoknya lagi, saya kembali melewati halte itu di jam yang sama. Masih sama saja, tak ada mereka. Hal itu memperpanjang rekor mereka untuk tidak naik mikrolet saya secara beruntun.

         Lusa dari hari itu, sekolah kembali memulai kegiatan belajar mengajar selepas libur akhir pekan. Saya kembali melewati halte itu di jam yang sama. Apakah mereka ada di sana? Benar sekali, mereka tak ada.

         Esoknya, masih sama saja. Mikrolet saya belum berjodoh dengan mereka.

         Esoknya lagi yaitu hari ini saya nampak mereka di halte itu. Tapi mereka tidak lengkap, hanya ada Ica dan Naila.

         “Eh, si Abang,” ucap Ica seraya melangkah masuk ke mikrolet saya yang masih kosong.

         “Ke mana aja, Bang? Udah lama banget gak kelihatan,” tambah Naila.

         “Gak ke mana-mana, kamu aja jarang keliatan,” sahut saya.

         “Ih, kita mah ada terus. Kan setiap hari kita sekolah kecuali minggu,” balas Naila.

         Saya sedari tadi penasaran dengan tak adanya Ratih bersama mereka berdua.

         “Si Ratih ke mana? Kok gak berangkat bareng kalian?”

         Mereka berdua saling bertatapan, wajah mereka nampak lesu. Saya yang melihat reaksi mereka atas pertanyaan saya dari spion dalam mikrolet membuat saya bingung.

         “Mmm…. Itu…. Ratih udah meninggal seminggu yang lalu.”

         “Iya, Bang. Dia kena DBD.”

         Saya amat sangat terkejut selepas mendengar kalimat yang baru sahaja diucapkan Ica dan Naila dengan lirih. Fakta bahwa ia meninggal di usia muda—di mana saya pernah nyaris merasakannya—membuat saya tidak bisa lebih bergidik lagi. Saya tak dapat membayangkan ia menjalani hari demi hari melawan penyakitnya. Semakin lama tubuhnya melemah lalu semakin lama kesadarannya perlahan berkurang hingga benar-benar hilang sepenuhnya masa nyawanya sudah dicabut malaikat maut.

         Walau hubungan saya dengan Ratih hanya sebatas sopir dan penumpang, saya merasakan duka mendalam atas kematiannya. Sejauh saya mengenalnya, ia anak yang sopan, santun, murah senyum, dan selalu dapat membawa keceriaan bagi siapapun di sekitarnya dengan cerita-cerita yang dia sajikan.

         Selepas memanjat doa dalam hati agar Ratih masuk surga, muncul beberapa pertanyaan yang selalu terpikir oleh saya selepas mendengar kabar seseorang telah meninggal. Kapan ajal saya tiba? Masihkah lama atau sekejap lagi? Dengan cara apa saya bertemu ajal? Apakah sama mengerikannya dengan terseret arus sungai masa itu? Apakah lebih mengerikan lagi, macam terkena penyakit seperti Ratih? Apakah lebih mengerikan dari itu semua? Atau justru tidak mengerikan sama sekali? Apakah masa berjumpa ajal saya sudah memiliki amalan yang cukup? Atau belum? Apakah di alam kubur saya akan disiksa? Atau tidak? Macam mana dengan istri dan anak-anak saya masa saya tiada? Apakah hidup mereka akan baik-baik saja? Sebetulnya masih ada beberapa pertanyaan lagi, tapi saya tidak mau membahas lebih lanjut sebab semakin saya memikirkan tentang kematian maka semakin saya takut.

Komentar

Paling banyak dilihat