Monyet
***
Sama kayak siswa berseragam putih biru lain, gue yang mau naik transportasi umum juga nunggu di tempat ini. Sembari nunggu kendaraan yang sesuai tujuan masing-masing datang, beberapa siswa lain ngisi waktu nunggu dengan jajan es potong, beberapa lainnya kelihatan asyik nyantap kue cubit atau cilok yang wadahnya berupa plastik bening, gerombolan cewek di sebelah sana lagi ngobrol sembari sesekali timbul ketawa, ada juga yang lagi bicara lewat telepon umum, lagi baca brosur bimbel yang baru aja dibagiin sama mas-mas di depan gerbang sekolah, dan Arjuna Novianto yaitu teman sekelas gue lagi berdiri sembari sesekali melongok ke jalan dan sesekali ngemut permen gagang berbentuk kaki yang dipegangnya.
Semua yang udah disebutin tadi kelihatan lagi senang atau setidaknya nggak lagi gelisah dan bingung kayak gue. Gelisah gara-gara cewek yang sekarang duduk di sebelah gue nyuekin gue terus dari tadi. Gue udah coba ajak dia ngobrol berkali-kali tapi tetap saja nggak nyaut barang satu kata pun. Gue juga coba ngelucu tapi nggak dapat reaksi sama sekali. Bukan cuma nggak mau balas omongan, dia bahkan sampai nggak mau lihat gue. Semenjak duduk di sini aja, matanya cuma fokus baca komik doraemon yang dipegangnya. Kayaknya sih dia lagi marah banget, soalnya dia belum pernah cuek ke gue sampai lama banget kayak gini. Lihat dia kayak gitu bikin suasana hati gue jadi nggak enak, nggak tenang.
Bingung gara-gara gue benar-benar enggak tahu apa yang ngebuat dia sampai marah segitunya sama gue. Sebelum bel masuk pagi tadi dia masih bersikap biasa ke gue, masih mau diajak ngobrol. Tapi nggak tahu ada angin apa tiba-tiba sikapnya berubah banget sehabis jam istirahat sampai sekarang waktu nunggu angkot pulang. Padahal sikap gue ke dia khususnya hari ini menurut gue baik-baik aja. Gue ajak ngobrol terus, gue nggak ngomong dan bertindak kasar atau hal yang menurut gue sekiranya bakalan bikin dia sakit hati, bahkan gue ikut nemenin dia ke perpustakaan waktu dia mau pinjam komik yang lagi dia baca sekarang.
Mediana alias Nana, itu nama cewek yang sekarang duduk di sebelah gue. Tetangga beda tiga rumah, teman sekelas, sekaligus pacar gue. Dari kecil gue sama Nana udah sering main bareng, secara rumah kami berdekatan. Gue lakuin banyak hal bareng dia, kayak main kejar-kejaran, ngegambar pakai krayon, jalan-jalan sore ke taman di komplek sebelah, nerbangin layangan, membuat pesawat kertas lalu diterbangin sejauh-jauhnya, dan masih banyak lagi. Masuk sekolah dasar, kami bersekolah di tempat yang sama. Pada masa itu gue jadi semakin sering main bareng dia, di rumah main bareng, di sekolah juga begitu. Gara-gara itu gue jadi semakin sering merhatiin dia dan lama-lama jadi suka. Di mata gue dia itu cantik pakai banget. Posturnya lebih pendek dari gue, rambutnya yang selalu bondol kelihatan keren, matanya yang berbentuk pipih seperti kacang almond kelihatan indah, hidungnya yang pesek membuatnya tambah imut, serta senyumnya yang semanis madu dan tiap kali dia tersenyum bakal muncul lesung di kedua pipinya. Dia juga orang yang suka nolong, perhatian, dan peduli. Sifat-sifat itu yang ngebuat dia makin cantik. Tapi rasa suka itu cuma bisa gue pendam. Soalnya waktu SD gue masih belum punya cukup nyali buat “nembak” dia.
Sampai sekarang Nana masih tetap cantik pakai banget. Malah Nana versi siswi SMP kelihatan semakin cantik. Jadinya cantik pake banget banget banget banget banget. Enggak cuma kecantikan dia yang bertambah, rasa cinta dan sayang gue juga. Gue yang ingin jadi pacarnya coba kumpulkan tekad selama berminggu-minggu hingga pada suatu waktu rasa yang dari lama gue rahasiain darinya akhirnya terbongkar sendiri oleh si pemilik rahasia. Gue nyatain cinta ke dia. Gue masih hafal betul dialog waktu itu.
“Na, gue suka sama lo tahu dari dulu. Kalo kita pacaran aja mau gak?”
“Hah? Pacaran?”
“Yoi.”
“Mma- mau.”
Gue masih ingat wajah Nana merona merah muda sehabis terima ungkapan cinta. Biar kayak di film-film romantis, gue pun megang tangannya lalu kami tersenyum. Waktu terus berjalan sementara hubungan pacaran gue sama dia baik-baik saja, setidaknya sampai sebelum bel masuk sehabis istirahat hari ini.
Dari jauh mulai kelihatan bus metro datang. Waktu mobil panjang itu udah berhenti, dengan suara lantang abang kernet nyebutin nama tempat atau jalan yang akan dilewati bus itu. Empat orang siswa naik teratur ke dalam bus. Tiga orang naik dari pintu belakang dan satu lainnya dari pintu depan. Sisanya, termasuk gue sama Nana, cuma diam dan lanjut nunggu. Bus metro pergi dengan ninggalin cukup banyak asap hitam yang bikin semua yang ada di halte jadi batuk-batuk.
Gue sama Nana masih nunggu angkot pulang yang belum juga kelihatan. Gue mulai ngerasa bosan nunggu padahal baru lima menit ngelakuinnya, bahkan biasanya harus nunggu lebih lama daripada ini. Kayaknya gara-gara cuma nunggu sembari bengong ngelihatin jalanan doang deh makanya jadi bosan. Biasanya waktu nunggu gue pakai buat ngobrol sama Nana, tapi dianya lagi kayak gitu jadi gue gak bisa apa-apa. Jadilah gue cuma ngelihat berbagai jenis kendaraan lewat sama daun-daun pada pohon di seberang jalan yang bergoyang sehabis terkena angin sepoi.
Sekitar enam orang termasuk salah satunya Arjuna Novianto bangkit dari duduknya. Mereka lalu berdiri di bagian halte yang lebih dekat dengan jalanan. Bersamaan dengan itu angkot nomor kosong dua datang. Waktu angkot udah berhenti sempurna dan satu orang penumpang turun dari sana, enam orang tadi langsung masuk ke dalamnya. Di halte ini sekarang cuma tersisa gue, Nana, sama empat orang lain dengan rincian dua orang cewek dan sepasang cowok-cewek.
Nggak lama sehabis angkot itu pergi, Nana nutup komik yang lagi dia baca lalu dimasukin ke tasnya. Kayaknya dia udah bosan sama kegiatannya itu. Dalam hati gue berharap kami yang lagi sama-sama bosan akhirnya mulai saling ngobrol lagi sembari nunggu angkot datang. Tapi nyatanya harapan itu nggak terkabul. Habis pakai lagi tasnya di punggung dia cuma fokus lihat jalanan sama kayak yang gue lakuin tanpa natap gue sama sekali barang sedetik pun. Dan yang paling penting dia nggak buka obrolan.
Apa gue yang harus ajak ngobrol dia duluan?
Kayaknya iya.
Hampir mulut gue kebuka lalu ngeluarin kalimat pembuka obrolan, tapi nggak jadi gara-gara Nana pergi dari bangku lalu berdiri persis di tempat enam orang tadi waktu berbuat hal yang sama. Cewek cantik pakai banget banget banger banget banget itu celingukan ke arah kanan. Gelagatnya kayak lagi cari sesuatu yang gue yakini dia cari angkot nomor kosong satu.
“Duduk dulu aja, Yang. Nunggu sambil diri, mah, capek,” kata gue dengan suara sedikit keras supaya terdengar oleh Nana yang posisinya agak jauh.
***
Aku mengubah pandangan selama beberapa detik untuk beralih kepada kendaraan yang menghampiri. Sesudah melihat kalau itu bukan mobil angkot menuju rumah, aku segera mengembalikan tatapan ke buku komik, membaca tiap kata, tiap kalimat, dan tiap paragraf yang ada pada setiap halamannya. Sejujurnya sih aku hanya pura-pura sedang serius baca komik. Dengan kata lain aku tidak benar-benar membacanya. Kalau saat ini ada seseorang bertanya komik yang sedang kubaca bercerita tentang apa, maka sudah pasti aku akan menjawab “nggak tahu” sambil mengedikkan kedua bahu. Aku pura-pura melakukan itu agar tidak diajak bicara terus sama Adit, pacarku yang sekarang duduk di sebelahku. Seharusnya dia tahu kalau orang yang sedang membaca sebaiknya dibiarkan fokus dan jangan diajak bicara, tapi sepertinya dia tidak perdulikan itu. Sampai akhirnya sesudah berkali-kali usahanya tidak mendapat respon dariku barulah dia membisu.
Aku sengaja bersikap cuek dan tidak menggubrisnya karena hari ini–lebih tepatnya saat jam istirahat pagi tadi–Adit tuh nyebeliiin banget. Masak, pas istirahat tadi Adit duduk berhadapan dan makan bareng dengan Sekar. Bukan hanya makan bareng, mereka juga terlihat asyik mengobrol sambil sesekali tertawa. Bahkan mereka juga terlihat saling berpegangan tangan. Padahal biasanya tiap jam istirahat dia selalu melakukan itu semua bersamaku. Meskipun saat itu Andini dan Wahyu yang merupakan teman sekelompok bahasa Inggris mereka pada jam pelajaran sebelumnya ikut nimbrung, tetapi tetap saja kulihat Adit dengan Sekar paling asyik ngobrol berdua. Sudah begitu, mereka berdua bercanda dengan saling meledek sampai kemudian terjadi adegan Sekar berlari mengejar Adit sambil lagi-lagi keduanya tertawa. Semua adegan itu terlihat romantis seperti dua orang yang sedang PDKT dalam film remaja.
Hati rasanya sakit kalau aku dianggurin begini. Tambah sakit ketika melihat Adit justru senang-senang dengan cewek lain. Walaupun habis kerja kelompok bersama, tapi, kan, seharusnya mereka tidak berdekatan terus. Apalagi sesudah bel masuk berbunyi Adit menghampiriku dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah aku tidak melihat semua yang dia lakukan. Sama sekali tidak ada rasa bersalah yang tampak di wajahnya. Baru saja dua hari lalu kami merayakan anniversary ke-1 bulan di mana dia bersikap romantis ke aku dengan mengajak makan es kenong bareng di taman komplek dekat rumah juga memberi sebatang coklat. Tapi hari ini dia berubah total menjadi tidak acuh kepadaku. Iiiih, sebeeeel.
Sampai detik ini aku tidak mau bicara dengan Adit, bahkan untuk sekadar melihat dan menatapnya pun malas. Padahal tadi aku sudah menghindar darinya agar kami tidak pulang bareng dengan cara lenyap dari kelas segera sesudah bel pulang berdering untuk berlari ke salah satu sudut sekolah yang jarang dijamah. Aku berharap dia mencariku dan tidak kunjung ketemu. Pada akhirnya dia menyerah sehingga pulang sendiri tanpa menunggu diriku. Sengaja aku berdiam di sana cukup lama untuk mengulur waktu agar jangan sampai bertemu dengannya di halte, jadi biarkan dia menunggu dan menaiki mobil angkot dahulu. Sialnya, ketika sudah keluar dari tempat persembunyian dan berjalan menuju gerbang aku melihat dia menunggu di ambang gerbang. Dia kemudian mengikutiku sampai ke sini.
Misiku gagal. Huft.
Satu lagi kendaraan menghampiri, sebuah mobil angkot. Sempat aku gembira sejenak sebab kukira ini adalah tumpanganku. Tapi sesudah melihat stiker nomor dan trayek pada kaca depan ternyata bukan sehingga aku harus menelan kecewa. Dalam hati aku memanjatkan doa supaya mobil angkot tumpanganku segera hadir di sini. Aku ingin cepat-cepat sampai rumah sebab tidak mau berlama-lama dekat Adit.
Selesai menaik-turunkan penumpang mobil angkot melesat ke tujuan berikutnya. Bersamaan dengan itu aku menutup komik yang ada di tangan. Aku memutuskan untuk berhenti melakukan kegiatan pura-pura baca komik sebab berpura-pura terus-menerus ternyata melelahkan juga.
Berhubung aku sedang kesal sama Adit maka daripada melanjutkan kegiatan menunggu sambil ngobrol sama dia, aku lebih memilih mengisi waktu dengan menatap jalanan sambil berhitung dari satu sampai seribu dalam hati. Tapi baru sampai hitungan ke tujuh puluh delapan aku sudah merasa bosan. Aku berhenti berhitung kemudian pergi dari tempat duduk, berjalan ke trotoar yang dekat ke tepi jalan, melongok ke jalanan mencari angkot tumpanganku yang masih belum tampak batang hidungnya. Saat aku ingin buru-buru sampai rumah seperti sekarang maka saat itulah angkot yang akan kunaiki lama sekali datangnya, sungguh kebetulan yang membuatku sebel. Padahal biasanya tidak sampai menunggu lama seperti ini. Huft.
“Duduk dulu aja, Yang. Nunggu sambil diri, mah, capek.”
Kalimat baru saja bersumber dari pita suara milik Aditya Mahesa. Tanpa perlu melihat gerak bibirnya aku sudah tahu itu suara dia. Aku melakukan gerakan balik badan kemudian berjalan malas menuju tempat duduk kembali. Tidak, aku sama sekali tidak melakukan ini untuk menuruti perkataan Adit. Aku melakukan ini hanya karena aku setuju sama ucapan dia. Dengan kata lain aku melakukan ini karena kata-kata yang diucapkan Adit menurutku ada benarnya, bukan karena Adit yang mengucapkannya.
Sejujurnya aku ingin duduk berbeda bangku dengan Adit, tapi tidak bisa terlaksana sebab bangku bundar tengah telah diisi sepasang siswa laki-laki dan perempuan sementara bangku bundar paling kiri dihuni dua orang siswi. Berhubung tidak ada pilihan lain maka terpaksa aku duduk di bangku semula bersama Adit, tapi kali ini kuberi jarak yang lumayan jauh di antara kami. Sementara mataku menatap lurus ke jalanan, batinku kembali melanjutkan hitungan yang terhenti. Tujuh sembilan, delapan puluh, delapan satu, delapan dua, delapan tiga.
Hitunganku kembali terhenti. Kali ini bukan bosan sebabnya, tapi Adit menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat denganku. Aku yang tidak suka hal itu segera kembali memperlebar jarak. Melihat itu dia kembali mendekat. Aku kembali menjauh. Dia kembali mendekat. Aku kembali menjauh. Dia kembali mendekat. Aku kesal. Ini orang maunya apa, sih? Tadi dekat-dekat Sekar melulu, sekarang mau dekat-dekat sama gue. Dasar playboy.
“Nggak usah dekat-dekat bisa nggak?” ucapku akhirnya pada Adit tanpa memandangnya, “Ngeselin banget.”
“Nggak bisa. Aku mau selalu dekat kamu,” sahutnya.
Mau selalu ada deket gue? Yakin? Gak salah orang ngomong begitu? Bukan harusnya lo ngomong kata-kata itu sama Sekar?
“Tapi gue ogah.”
“Kamu kenapa kayak gitu, sih, sama aku? Kalau ada masalah sama aku bilang, biar kita beresin. Jangan diam begini.”
Aku memilih diam, malas melanjutkan pembicaraan. Biar dia jawab sendiri saja pertanyaannya.
“Kalau aku ada salah, aku minta maaf, deh,” sambungnya dengan nada memelas.
Bukan, Adit bukan meminta maaf sebab dia sudah tahu kesalahannya dan menyesal akan itu. Dia melakukan itu hanya agar situasi kembali normal alias aku segera berhenti sebel. Aku akan menerima permintaan maafnya, tapi sebelum itu dia harus menyesali kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Nah, ini, jangankan merasa menyesal dan janji tidak mengulangi, dia saja masih tidak menyadari kesalahannya sendiri. Bukannya aku segera maafkan dia, justru perasaan kesal yang semakin meluap.
Bisa saja aku kasih tahu dia apa kesalahannya. Tapi masak dia tidak sadar akan kesalahan yang sudah jelas dilakukan dengan waktu cukup lama yaitu pada keseluruhan jam istirahat alias tiga puluh menit. Atau jangan-jangan dia menganggap hal yang dilakukan bersama Sekar tadi adalah hal biasa saja dan bukan suatu kesalahan? Aku berharap tidak. Tapi kalau beneran iya, serius, aku kesal mampusssss.
“Gue mau pulang sendiri. Kalo angkotnya lewat gue naik, lo tunggu angkot lain,” ucapku ketus.
“Nggak mau. Angkot kan buat siapa aja, jadi aku bebas pilih mau naik yang mana.”
Huft, “Yaudah. Gue nunggu. Lo duluan.”
“Aku udah bilang iya pas mama kamu minta aku buat pulang bareng sekalian jagain kamu. Janji harus ditepatin.”
“Bukan anak kecil. Nggak usah dijagain.”
“Bener, nih, nggak mau pulang bareng?”
Aku memilih diam lagi, malas melanjutkan pembicaraan. Biar dia jawab sendiri saja pertanyaannya.
“Yaudah kalau gak mau bareng, tapi entar aku bilangin mama kamu kalau kamu udah bohong pas ngasih tahu nilai UTS matematika.”
Saat hasil ujian tengah semester dibagikan minggu lalu, aku mendapat nilai lima puluh yang tentunya jauh di bawah nilai ketuntasan minimal. Entah mengapa itu bisa terjadi, padahal aku merasa bisa mengerjakan soal-soalnya dengan benar. Mama yang sangat serius masalah nilai sekolah pasti akan marah besar (mengomel selama berhari-hari, mencubit kuat-kuat, dan menjewer) jika mendengar bahwa nilaiku hanya setengah dari sempurna. Maka hari itu aku memutuskan untuk berbohong dengan berkata bahwa aku mendapat sembilan puluh pada pelajaran matematika. Aku memberi tahu cerita itu ke Adit sekitar dua atau tiga hari lalu sesudah dia bertanya apakah aku kena marah mama soal nilai jelek. Kalimat yang baru saja dia ucapkan kedengaran seperti ancaman buatku.
Aku akhirnya menatap Adit, “Najis, pengaduan.”
“Makanya pulang bareng biar nggak aku aduin.”
Aku kembali memandang ke jalan, “Aduin aja.”
“Serius, nih? Aku beneran, loh.”
“Aduin sana,” ucapku menantang dan terkesan sok berani padahal sejujurnya takut kalau itu benar terjadi.
Berikutnya aku dan Adit hanya saling diam sampai mobil angkot nomor kosong dua menghampiri. Adit berdiri kemudian berjalan mendekati mobil angkot. Di tengah perjalanan pergi ke sana, dia berbalik badan kemudian melihatku yang masih duduk sambil melihatnya.
“Ayo,” ajaknya sambil mengulurkan tangan, “Aku serius mau ngaduin nih kalau nggak mau bareng.”
Aku diam sejenak. Pikiranku bercabang. Di satu sisi aku sudah malas dan risih banget untuk dekat-dekat sama Adit. Tapi aku takut dia benar-benar mengadukan kebohonganku kemudian mama berubah menjadi monster rubah ekor sembilan. Adit, kan, suka membuat apapun yang tadinya bercanda menjadi serius.
“Cepet, itu abangnya nungguin,” ibu jari tangan kanan Adit menunjuk ke belakang tepatnya ke mobil angkot.
Aku berdiri dengan malas kemudian berjalan mengikuti Adit untuk masuk ke mobil angkot juga dengan malas.
Komentar
Posting Komentar