Perang

 ***


Uang. Sebagian masyarakat menyapa dengan sebutan duit. Beberapa lagi menamainya fulus. Para kawula muda lebih akrab memanggilnya dokat. Siapa yang tidak suka uang? Saya pribadi suka. Saya kira Anda juga demikian. Kita suka uang. Meski tidak bisa membeli kebahagiaan tapi dia bisa membeli apa-apa yang sekiranya membuat bahagia. Itulah alasan mengapa saya suka uang. Kalau Anda?


Uang. Sebagian masyarakat menyapa dengan sebutan duit. Beberapa lagi menamainya fulus. Para kawula muda lebih akrab memanggilnya dokat. Saya melihat sehelai uang. Warnanya merah merekah. Agaknya dia terpisah dari tuannya. Tadinya kertas itu tergeletak di atas pembatas tepi jalan. Semilir angin membuatnya berpindah tempat. Dia terbang rendah ikut arah angin lantas tersangkut pada tiang yang di puncaknya terdapat papan informasi trayek kendaraan umum dan berakhir terbaring dekat sana.


Uang. Sebagian masyarakat menyapa dengan sebutan duit. Beberapa lagi menamainya fulus. Para kawula muda lebih akrab memanggilnya dokat. Uang merah belum berpindah lagi. Saya celingukan ke kiri ke kanan. Tidak ada siapapun selain saya di sini. Sekilas terbesit dalam pikiran untuk memungut uang itu. Lumayan untuk menemani kumpulan uang pecahan kecil dalam dompet. Kalau Anda punya seratus ribu rencananya dipakai untuk apa? Menurut saya pribadi dia bisa digunakan untuk banyak hal. Kalau diberikan ke istri bisa dipakai belanja bahan makanan di pasar untuk dua minggu. Bisa juga dimanfaatkan untuk membayar satu bulan biaya listrik rumah. Kalau ingin perut kenyang hati bahagia bisa dihabiskan dengan membeli bakmi ayam di depot bakmi kegemaran saya, namanya Barokah. Tidak cuma dapat satu, tapi empat belas mangkok. Itupun masih terima kembalian dua ribu. Meski lumayan tapi kalau mengambil lantas memakainya untuk keperluan pribadi bakal mendapat dosa. Saya takut dosa. Saya takut masuk neraka. 


Uang. Sebagian masyarakat menyapa dengan sebutan duit. Beberapa lagi menamainya fulus. Para kawula muda lebih akrab memanggilnya dokat. Uang merah masih belum berpindah. Masih merebah di sana. Belum berpindah ke tangan saya. Apalagi dompet. Sesungguhnya kesempatan terbuka lebar. Pikiran kotor untuk menjumputnya yang banyak menghilang sebab takut mendapat balasan dari Tuhan. Kalau mengambil lantas mencoba menemukan siapa tuannya maka saya menjadi orang baik. Termasuk kondisi di mana pemilik tidak berhasil ditemukan lantas menyerahkannya ke rumah ibadah terdekat. Semua orang ingin jadi pribadi yang baik. Termasuk saya. Berbuat baik membuat pelakunya ikut serta mengatasi kekurangan orang baik nan jujur di negeri ini. Tapi dalam kondisi ini imbasnya tidak untung secara materi. 


Uang. Sebagian masyarakat menyapa dengan sebutan duit. Beberapa lagi menamainya fulus. Para kawula muda lebih akrab memanggilnya dokat. Apa sih makna berbuat baik dibandingkan dengan mendapat uang seratus ribu? Memang berbuat suatu kebaikan bisa mendapat ketenangan dan kenyamanan hidup. Tapi kalau dapur kosong sebab istri tidak saya kasih uang. Atau listrik diputus paksa dampak dari tagihan yang belum dibayar. Boro-boro nyaman. Tenang saja tidak. Soal bakmi ayam Barokah sih tidak masalah. Bisa makan nanti. Pikiran kotor untuk memasukkan lembaran merah itu meningkat lagi. Dia tidak benar-benar hilang. Cuma berkurang banyak untuk sementara lantas mencuat lagi. Mudah bagi saya kalau ingin menjadi tuan baru uang itu. Mendekati dengan senyap. Menjulurkan lengan sedikit agar tidak mencolok. Ambil uangnya pakai tangan. Langkah terakhir, masukkan ke dompet. Kesempatan masih ada. Tapi balik lagi, saya takut dosa. Juga neraka. Juga Sang Pencipta. Tapi sayang kalau tidak diambil. Sial, saya bimbang betul.


Uang. Sebagian masyarakat menyapa dengan sebutan duit. Beberapa lagi menamainya fulus. Para kawula muda lebih akrab memanggilnya dokat. Tangan saya memegang batang besi pada langit-langit dalam bis Mayasari. Itu dilakukan untuk menopang tubuh agar tidak terhempas. Kondisi dalam bis sesak. Saya berjejalan dengan penumpang lain dalam posisi berdiri. Pegal? Sudah pasti. Ditambah harus menahan bau asam dan amis. Bau itu berasal dari para penumpang. Mungkin saya termasuk. Apalagi saya membawa barang dagangan yang berat betul. Hari ini cuma laku tiga biji. Jadi beratnya tidak kurang banyak. Pundak saya ditepuk kernet. Saya berhenti melihat kemacetan dari kaca bis. Kernet menagih ongkos menumpang. Saya buka dompet. Mengambil uang lima ribu yang posisinya tepat di depan uang merah merekah. Kernet menerima uang lima ribu lantas pergi menagih ongkos ke penumpang lain.

Komentar

Paling banyak dilihat