Ikthisar Film Dokumenter Asimetris


ASIMETRIS


Film Asimetris merupakan sebuah dokumenter yang dibuka dengan kabut asap di Kalimantan akibat penggundulan hutan agar bisa membuat bendungan besar untuk saluran irigasi untuk proyek satu juta hektare sawah, proyek pemerintah Indonesia tahun 90-an. Namun, proyek tersebut gagal total. Hutan yang sudah terlanjur gundul akhirnya menimbulkan banyak masalah salah satunya kebakaran lahan dan kabut asap tersebut. Alih-alih proyek lahan persawahan tidak jadi dibuat, justru proyek perkebunan kelapa sawit terbuka luas sebanyak sebelas juta hektare. Tujuan dibukanya lahan kelapa sawit seluas itu adalah untuk memenuhi permintaan jutaan bahkan milyaran manusia karena minyak kelapa sawit memiliki banyak manfaat untuk kehidupan sehari-hari. Terdapat tiga kategori pemanfaatan minyak kelapa sawit, yaitu untuk campuran bahan makanan (oleo food), untuk campuran bahan kimia seperti shampoo, sabun mandi, dll (oleochemical), dan untuk campuran bahan bakar biodiesel (biofuel).

Latar belakang terjadinya kerusakan lingkungan atau deforestasi menurut film ini adalah pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit secara besar-besaran tanpa memperhatikan keseimbangan lingkungan dan kesejahteraan manusia. Contoh dari perilaku tersebut yaitu pembukaan lahan dengan cara melakukan pembakaran besar, saluran pembuangan yang buruk, upah pekerja kebun sawit yang sangat minim, mencaplok lahan milik masyarakat kecil, perusahaan dan masyarakat tidak mengikuti RSPO, mempekerjakan anak di bawah umur, dll. Pembukaan lahan kelapa sawit tidak hanya terjadi di Kalimantan saja, tetapi sudah mulai menjalar ke Pulau Sumatra (Jambi, Riau, dll) dan Pulau Papua (Merauke dan Boven Digul). Tiap tahun luasnya terus bertambah seiring dengan meningkatnya populasi manusia dan kebutuhan akan minyak kelapa sawit. Semakin banyak lahan kelapa sawit yang dibuka dengan cara seperti contoh di atas maka akan semakin rusak kondisi lingkungan dan semakin sulit kondisi masyarakat kecil, apalagi yang hidupnya bergantung dari kelapa sawit. Di Indonesia sendiri, industri kelapa sawit telah menghidupi 16 juta rakyat.

Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah: Siapa yang seharusnya disalahkan atas kasus ini? Pihak yang terlibat dalam deforestasi di Indonesia adalah bank-bank dan lembaga investasi baik di dalam maupun luar negeri. Bank atau lembaga investasi tersebut adalah pihak yang mengucurkan dana kepada perusahaan agar dapat membuka lahan kelapa sawit untuk dapat meraup keuntungan di kemudian hari. Terhitung sudah dua puluh bank dalam dan luar negeri telah memberikan dana investasi untuk pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit di berbagai lokasi di Indonesia sebesar 17 milyar dollar AS (setara dengan 170 triliun rupiah) dalam waktu lima tahun.


Pihak lain yang terlibat dalam deforestasi di Indonesia pastilah perusahaan kelapa sawit itu sendiri. Alasannya adalah karena perusahaan-perusahaan tersebut banyak melakukan pembukaan lahan secara tidak ramah lingkungan, tidak mengikuti standar RSPO (termasuk mengambil buah kelapa sawit dari masyarakat yang tidak taat RSPO), pencaplokan lahan milik masyarakat kecil secara sepihak, dll. Bahkan di film tersebut ada suatu kasus pencaplokan lahan oleh perusahaan, lalu Wardian selaku penjaga kebun tersebut melakukan protes. Karena protesnya tidak digubris, Wardian memotong buah dari lahan yang dicaplok perusahaan tersebut dengan tujuan agar perusahaan tersebut segera menyelesaikan masalah ini. Namun, perusahaan tersebut justru menuntut Wardian atas dasar pencurian buah kelapa sawit dan akhirnya Wardian masuk ke dalam penjara.

Pemerintah Indonesia seakan payah dan tidak berdaya di mata perusahaan besar. Pemerintah tidak bisa menegakkan keadilan agar menyelamatkan rakyat kecil dan membuat perusahaan kelapa sawit dalam dan luar negeri tidak dapat semena-mena. Banyak negara maju yang mengkritik praktek pembukaan lahan kelapa sawit di Indonesia yang begitu buruk, sementara itu Indonesia membalas argumen tersebut dengan dalih mempertahankan komoditas nasional. Argumen tersebut tidak relevan, karena ini tidak ada hubungannya dengan nasionalisme. Kepentingan ini adalah untuk mempertahankan keuntungan lembaga keuangan global.

Pembukaan serta pengelolaan lahan perkebunan kelapa sawit yang buruk tentu banyak menimbulkan dampak yang buruk pula. Salah dua dari dampak buruknya adalah kebakaran lahan sehingga kualitas udara memburuk (di Palangkaraya pada 2015 mencapai 1300 persen dari ambang batas normal) dan saluran pembuangan limbah perkebunan kelapa sawit yang dibuang langsung ke sungai. Dampak buruk tersebut tentu merusak lingkungan. Dampak dari kerusakan lingkungan dari film tersebut adalah adanya banyak kabut asap menyebabkan kualitas udara buruk. 19 orang di Kalimantan dan Sumatra meninggal dunia, sementara setengah juta orang terjangkit gangguan pernapasan akut. Gangguan saluran pernapasan tersebut menyerang hingga bayi dan manula. Adanya polusi air hasil dari pembuangan limbah dari kebun kelapa sawit yang buruk membuat sungai jadi keruh serta banyak biota laut mati (salah satunya ikan papuyu). Selain itu, banyak timbul juga lahan kering dan gersang akibat lahan yang terbakar.


Konflik sosial yang terjadi dalam kasus lahan kelapa sawit tersebut adalah konflik antarkelas (vertikal) yang terjadi antara masyarakat kecil yang lahannya dirampas dan perusahaan besar kelapa sawit. Konflik ini tergolong ke dalam konflik terbuka karena diketahui oleh masyarakat luas, masuk koran dan TV. Selain itu, konflik ini termasuk ke dalam konflik kelompok, seperti di cuplikan film tersebut kelompok petani menolak lahannya diambil oleh kelompok pekerja perusahaan dan polisi. Konflik ini juga termasuk dalam konflik realistis karena adanya rasa kekecewaan kelompok petani kepada perusahaan atas pencaplokan lahan.

Untuk mencegah agar masalah tersebut tidak semakin besar, maka diperlukan solusi dari berbagai pihak untuk menyelesaikan kasus tersebut. Baik pemerintah, organisasi/LSM, dan masyarakat seharusnya berupaya bersama-sama dan sekuat tenaga. Upaya dan usaha yang sudah dilakukan berbagai pihak adalah masyarakat sudah melakukan perlawanan dan protes tentang perusahaan kelapa sawit yang mencaplok lahan mereka dan atas kerusakan lingkungan yang telah perusahaan tersebut buat. Masyarakat tersebut bahkan menghadang dan menyuruh pergi para pekerja perusahaan kelapa sawit tersebut beserta alat beratnya (seperti di Merauke). Selain itu, kelompok kepentingan dalam film ini adalah koperasi kredit gemalaq kemisiq melakukan upaya dengan memberikan layanan tabungan dan pinjaman kepada masyarakat sekitar agar masyarakat menjadi lebih sejahtera. Salah satu kebijakan gemalaq kemisiq yang menurut saya sangat bagus yaitu tidak memberi kredit untuk orang atau badan yang akan membuka lahan perkebunan kelapa sawit karena itu akan sangat merugikan masyarakat dan lingkungan sekitar. Dari pihak pemerintah juga sudah membentuk badan restorasi gambut (BRG) untuk mencegah kerusakan lebih parah dan menjaga yang masih tersisa. Nazir Foead yang pernah bekerja di WWF ditunjuk untuk menjadi ketua BRG. Nazir Foead beserta tim melakukan blusukan dan sidak di berbagai daerah di Indonesia.

Sayangnya, upaya-upaya tersebut belum menjumpai hasil yang diharapkan. Aksi protes masyarakat di film tersebut banyak yang tidak digubris, dibiarkan begitu saja seolah-olah perusahaan tutup mata dan telinga akan hal tersebut. LSM Gemalaq Kemisiq yang tidak akan meminjamkan uang jika untuk membuka lahan kelapa sawit adalah perbuatan sia-sia karena dana untuk membuka lahan kelapa sawit bisa di kredit melalui bank atau investor. Badan restorasi gambut (BRG) juga mendapat halangan ketika melakukan sidak. Seperti di film, ketika ingin melihat lokasi gambut PT. Riau Andalan Pulp and Paper, tim BRG dihadang oleh orang yang mengaku Alumni bela negara 3 Kopassus yang menjaga lahan tersebut.

Dengan adanya pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit, maka harus dilakukan penggundulan hutan (deforestasi) agar lahan hutan tersebut dapat dialihfungsikan. Kegiatan deforestasi berarti mengubah fungsi hutan dari yang tadinya untuk menjaga kelestarian lingkungan serta sebagai habitat banyak flora dan fauna menjadi untuk kepentingan manusia (oleo food, oleochemical, biofuel). Hutan merupakan paru-paru dunia. Sehingga jika lahan hutan semakin berkurang, maka oksigen semakin sedikit dan akan terjadi pemanasan global. Hubungan deforestasi dan globalisasi dapat dianalisis melalui pendekatan monodisiplin yaitu dilihat dari globalisasi ekonomi. Dalam salah satu cuplikan film juga kita diberi tahu bahwa di negara-negara eropa, minyak kelapa sawit digunakan untuk pembangkit listrik, pemanas ruangan, dan bahan bakar. Berhubung di zaman seperti sekarang ini sudah sangat mudah melakukan kegiatan ekspor-impor kelapa sawit antarnegara karena setiap negara sudah terkoneksi, membuat banyak negara melakukan kegiatan ekspor-impor kelapa sawit sehingga permintaan akan kelapa sawit semakin banyak. Pada akhirnya, lahan hutanlah yang lagi-lagi menjadi korban untuk membuka lahan perkebunan kelapa sawit.


Kegiatan penggundulan hutan (deforestasi) selain menyebabkan masalah kerusakan alam juga dapat menyebabkan permasalahan sosial yaitu masalah kependudukan. Hubungan deforestasi dan masalah kependudukan adalah seperti beberapa bagian film yang membahas hal yaitu dengan semakin banyaknya populasi manusia dunia dari masa ke masa, maka permintaan akan suatu barang (dalam hal ini kelapa sawit) semakin meningkat pula. Kebutuhan manusia seluruh dunia yang makin meningkat itulah yang membuat konversi hutan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit terus menerus terjadi.

Pada akhirnya, film asimetris menceritakan bagaimana deforestasi hutan dan gambut untuk ekspansi lahan perkebunan kelapa sawit besar-besaran memberikan banyak dampak buruk bagi kondisi sosial-ekonomi masyarakat dan tentunya bagi alam itu sendiri. Cara pembukaan lahan dengan mencaplok lahan milik warga dan pembuangan limbah yang tidak teratur makin menambah masalah. Ketidaktegasan pemerintah dalam menindak perusahaan-perusahaan besar kelapa sawit membuat masalah tidak terselesaikan. Asimetris memberi tahu kepada kita semua bahwa berapapun besar keuntungan dari perusahaan kelapa sawit, tetap saja tidak sebanding dengan kerugian yang telah diperbuat. Apalagi perusahaan perkebunan kelapa sawit belum tentu mau untuk bertanggung jawab atas berbagai kerugian tersebut.


Asimetris bisa kamu tonton di:



- - - 


Tulisan isi dibuat pada 2021

Untuk memori dan perjalanan sesudahnya

Komentar

Paling banyak dilihat