Ikthisar Film Dokumenter Asimetris
ASIMETRIS
Konflik sosial yang terjadi dalam kasus lahan kelapa sawit tersebut adalah konflik antarkelas (vertikal) yang terjadi antara masyarakat kecil yang lahannya dirampas dan perusahaan besar kelapa sawit. Konflik ini tergolong ke dalam konflik terbuka karena diketahui oleh masyarakat luas, masuk koran dan TV. Selain itu, konflik ini termasuk ke dalam konflik kelompok, seperti di cuplikan film tersebut kelompok petani menolak lahannya diambil oleh kelompok pekerja perusahaan dan polisi. Konflik ini juga termasuk dalam konflik realistis karena adanya rasa kekecewaan kelompok petani kepada perusahaan atas pencaplokan lahan.
Untuk mencegah agar masalah tersebut tidak semakin besar, maka diperlukan solusi dari berbagai pihak untuk menyelesaikan kasus tersebut. Baik pemerintah, organisasi/LSM, dan masyarakat seharusnya berupaya bersama-sama dan sekuat tenaga. Upaya dan usaha yang sudah dilakukan berbagai pihak adalah masyarakat sudah melakukan perlawanan dan protes tentang perusahaan kelapa sawit yang mencaplok lahan mereka dan atas kerusakan lingkungan yang telah perusahaan tersebut buat. Masyarakat tersebut bahkan menghadang dan menyuruh pergi para pekerja perusahaan kelapa sawit tersebut beserta alat beratnya (seperti di Merauke). Selain itu, kelompok kepentingan dalam film ini adalah koperasi kredit gemalaq kemisiq melakukan upaya dengan memberikan layanan tabungan dan pinjaman kepada masyarakat sekitar agar masyarakat menjadi lebih sejahtera. Salah satu kebijakan gemalaq kemisiq yang menurut saya sangat bagus yaitu tidak memberi kredit untuk orang atau badan yang akan membuka lahan perkebunan kelapa sawit karena itu akan sangat merugikan masyarakat dan lingkungan sekitar. Dari pihak pemerintah juga sudah membentuk badan restorasi gambut (BRG) untuk mencegah kerusakan lebih parah dan menjaga yang masih tersisa. Nazir Foead yang pernah bekerja di WWF ditunjuk untuk menjadi ketua BRG. Nazir Foead beserta tim melakukan blusukan dan sidak di berbagai daerah di Indonesia.
Sayangnya, upaya-upaya tersebut belum menjumpai hasil yang diharapkan. Aksi protes masyarakat di film tersebut banyak yang tidak digubris, dibiarkan begitu saja seolah-olah perusahaan tutup mata dan telinga akan hal tersebut. LSM Gemalaq Kemisiq yang tidak akan meminjamkan uang jika untuk membuka lahan kelapa sawit adalah perbuatan sia-sia karena dana untuk membuka lahan kelapa sawit bisa di kredit melalui bank atau investor. Badan restorasi gambut (BRG) juga mendapat halangan ketika melakukan sidak. Seperti di film, ketika ingin melihat lokasi gambut PT. Riau Andalan Pulp and Paper, tim BRG dihadang oleh orang yang mengaku Alumni bela negara 3 Kopassus yang menjaga lahan tersebut.
Dengan adanya pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit, maka harus dilakukan penggundulan hutan (deforestasi) agar lahan hutan tersebut dapat dialihfungsikan. Kegiatan deforestasi berarti mengubah fungsi hutan dari yang tadinya untuk menjaga kelestarian lingkungan serta sebagai habitat banyak flora dan fauna menjadi untuk kepentingan manusia (oleo food, oleochemical, biofuel). Hutan merupakan paru-paru dunia. Sehingga jika lahan hutan semakin berkurang, maka oksigen semakin sedikit dan akan terjadi pemanasan global. Hubungan deforestasi dan globalisasi dapat dianalisis melalui pendekatan monodisiplin yaitu dilihat dari globalisasi ekonomi. Dalam salah satu cuplikan film juga kita diberi tahu bahwa di negara-negara eropa, minyak kelapa sawit digunakan untuk pembangkit listrik, pemanas ruangan, dan bahan bakar. Berhubung di zaman seperti sekarang ini sudah sangat mudah melakukan kegiatan ekspor-impor kelapa sawit antarnegara karena setiap negara sudah terkoneksi, membuat banyak negara melakukan kegiatan ekspor-impor kelapa sawit sehingga permintaan akan kelapa sawit semakin banyak. Pada akhirnya, lahan hutanlah yang lagi-lagi menjadi korban untuk membuka lahan perkebunan kelapa sawit.
Kegiatan penggundulan hutan (deforestasi) selain menyebabkan masalah kerusakan alam juga dapat menyebabkan permasalahan sosial yaitu masalah kependudukan. Hubungan deforestasi dan masalah kependudukan adalah seperti beberapa bagian film yang membahas hal yaitu dengan semakin banyaknya populasi manusia dunia dari masa ke masa, maka permintaan akan suatu barang (dalam hal ini kelapa sawit) semakin meningkat pula. Kebutuhan manusia seluruh dunia yang makin meningkat itulah yang membuat konversi hutan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit terus menerus terjadi.
Pada akhirnya, film asimetris menceritakan bagaimana deforestasi hutan dan gambut untuk ekspansi lahan perkebunan kelapa sawit besar-besaran memberikan banyak dampak buruk bagi kondisi sosial-ekonomi masyarakat dan tentunya bagi alam itu sendiri. Cara pembukaan lahan dengan mencaplok lahan milik warga dan pembuangan limbah yang tidak teratur makin menambah masalah. Ketidaktegasan pemerintah dalam menindak perusahaan-perusahaan besar kelapa sawit membuat masalah tidak terselesaikan. Asimetris memberi tahu kepada kita semua bahwa berapapun besar keuntungan dari perusahaan kelapa sawit, tetap saja tidak sebanding dengan kerugian yang telah diperbuat. Apalagi perusahaan perkebunan kelapa sawit belum tentu mau untuk bertanggung jawab atas berbagai kerugian tersebut.
Asimetris bisa kamu tonton di:
- - -
Tulisan isi dibuat pada 2021
Untuk memori dan perjalanan sesudahnya
%20(1).jpg)
Komentar
Posting Komentar