Review The Yearbook Committee: Tahun Terakhir SMA yang Penuh Drama
Sinopsis
The Yearbook Committee karya Sarah Ayoub bercerita tentang lima orang murid di salah satu SMA elit di Sydney yang dipertemukan dalam kepanitiaan pembuatan buku tahunan sekolah. Tiap murid yang ada di kepanitiaan itu punya latar belakang, pemikiran, dan circle murid yang beda-beda. Ryan si kapten sekolah yang populer dan ambisius. Terus ada Tammi si cewek yang ada di circle anak-anak hits dan gaul. Gillian si anak politisi yang suka menulis–dia bikin blog dan punya banyak followers di platform itu–dan sering dirundung sama anak-anak hits. Ada juga Matty si pendiam dan kelihatan nggak peduli soal apapun yang berhubungan sama sekolah. Sama ada Charlie si anak baru pindahan dari Melbourne yang pintar, ambisius, dan punya pemikiran yang kuat. Dari perbedaan itu aja udah kebayang kan gimana ributnya mereka pas disatuin dalam kepanitiaan itu? Ada yang semangat banget. Ada yang nggak semangat. Bahkan ada yang nggak peduli.
Alasan mereka masuk kepanitiaan juga macem-macem. Ada yang keinginan sendiri, ada yang disuruh temen, bahkan ada yang dipaksa guru.. Mereka dengan karakter dan pemikiran yang beda-beda dipaksa buat ngerjain satu proyek angkatan bareng-bareng. Novel ini bakal membawa kita menuju perjalanan panjang dari rapat pertama yang nggak menghasilkan apa-apa, mereka berlima yang mulai kompak dan akrab, sampai buku tahunan sekolah selesai dan siap dibagiin ke semua murid pas upacara kelulusan. Melalui rapat demi rapat dengan perdebatan yang panas dan pergaulan mereka selama di sekolah bikin berbagai konflik muncul dari sini. Mulai dari drama pertemanan, percintaan, hubungan orang tua dan anak, kenakalan remaja, sampai kesehatan mental.
Relate banget sama kehidupan SMA zaman sekarang
Berbagai konflik yang diangkat dalam keseluruhan cerita bener-bener persis sama masalah yang dialami anak-anak sekolahan zaman sekarang di dunia nyata. Menurut pengamatan gue seenggaknya gitu. Persoalan kayak bullying, revenge porn, fake friend, pemaksaan kehendak oleh orang tua, kesetaraan gender, dan tekanan mental kan jarang bisa kita temuin di novel kayak gini. Masalah yang dibahas tuh emang bener-bener identik sama anak muda, sehingga ninggalin kesan yang lebih dalam buat para pembaca remaja–dilihat dari berbagai aspek kayaknya sasaran utama novel ini pembaca remaja. Bermacam persoalan tadi hadir dengan didampingi berbagai karakter tiap tokohnya dalam menyikapi persoalan itu. Karakter kayak egoisme, fanatisme, superioritas, dan kelabilan bikin para tokoh punya reaksi yang unik pas menghadapi masalah. Berbagai konflik tersebut dikemas dengan balutan cerita kehidupan SMA–yang isinya belajar main belajar main–yang penuh lika-liku kehidupan.
Meski begitu ada beberapa kehidupan sekolah mereka yang kurang relate sama anak sekolah di Indonesia, mengingat novel ini berlatar tempat di Australia. Kelakuan macam kissing, minta bersenggama ke pacar, party sambil minum alkohol adalah kehidupan yang dimaksud. Eh, Jaksel itu masuknya wilayah Indonesia, ya? Kalo gitu gue ralat deh. Novel ini punya beberapa kehidupan sekolah mereka yang kurang relate sama anak sekolah di Indonesia kecuali Jaksel. Tentu kelakuan itu bukan buat diikutin, ya. Kalo mau niru siap-siap tanggung konsekuensinya.
Kebetulan yang sangat apa
Banyak kejadian di novel ini tuh yang serba kebetulan. Parahnya lagi kebetulannya nyaris nggak masuk akal, rasanya too good to be true banget. Sampai-sampai gue nggak bisa pake kalimat sakti “namanya novel atau film pasti ada aja kebetulannya” buat rentetan peristiwa ajaib yang terjadi. Salah satu yang bikin gue geleng kepala sampai copot yaitu pas Ryan sama tim sepakbolanya nginep di suatu hotel di kota Melbourne dalam rangka ikut kompetisi antar negara bagian. Bersamaan dengan itu Charlie juga pergi ke sana buat ketemu sama sahabatnya. Padahal sebelumnya udah dijelasin kalo Melbourne itu kota yang luas jadi nyaris nggak mungkin buat Ryan ketemu sama Charlie, eh di sana mereka ketemu dong. Ternyata hotel tempat Charlie nginep nggak jauh dari hotel tim sepakbola Ryan padahal mereka nggak janjian. Dari ratusan bahkan ribuan hotel di Melbourne harus banget mereka nginep deketan, ya?
Ada satu kebetulan lagi yang bikin gue kesel, yaitu pas Gillian sama Matty ikut semacam open house suatu kampus gitu, terus di tembok terpajang salah satu foto yang ngasih lihat para mahasiswa tahun lama. Matty ngerasa ada yang aneh sama salah satu orang di foto itu terus dia foto pake kamera HP dan tersirat dia punya firasat kalo itu adalah ayahnya yang selama ini hilang entah ke mana. Padahal Matty nggak pernah tahu nama ayahnya, nggak pernah lihat wujudnya juga, terus nggak pernah diceritain sama ibunya sama sekali. Dia bener-bener clueless soal ayah yang tidak pernah hadir di kehidupannya tapi mendadak dapet ilham begitu ngelihat foto random di tembok kampus. Dan tahu apa yang terjadi di akhir? Sosok yang Matty foto bener-bener bokapnya. Kayak, what the f*ck is this? Nanti kalo ketemu Matty di jalan bakal gue tanya, “Eh, Meti, lo cenayang ya?”
Sama ada satu lagi, ini bukan soal kejadian ajaib tapi sama ngeselinnya, yaitu pas Gillian main masuk aja ke ruang kerja ibunya Charlie terus baca-baca kertas penelitian yang ada di sana. Bro, di mana sih sopan santunnya? Gue tahu ini novel berlatar tempat di Australia yang kentel sama budaya baratnya yang bebas, tapi nggak gini juga lah. Sebebas-bebasnya kehidupan ada manner yang harus diterapin. Masuk ruangan tanpa seizin pemiliknya aja udah salah, ini sampai baca-baca kertas yang ada di sana loh, kan edan. Ruangan kayak kamar tidur dan ruang kerja yang harusnya jadi privasi malah diterobos seenaknya. Terlepas dari siapa yang salah di konflik pada bagian cerita itu, tetep aja yang dilakuin Gillian nggak banget.
POV nggak jelas
Lagi lagi sudut pandang penceritaan yang nggak jelas. Well, lebih tepatnya nggak kelihatan bedanya antara sudut pandang satu dengan sudut pandang yang lain. Jadi buku ini tuh punya lima POV dari lima karakter utamanya. Masalahnya cara penyampaian POV dari Ryan persis sama punyanya Charlie, Gillian persis Tammi, Matty persis Ryan, Tammi persis Matty, semuanya kayak sudut pandang dari satu orang anjir. Dalam ngejalanin ceritanya tiap POV yang ada tuh punya pemilihan diksi dan penyusunan kata-kata dalam menjalankan cerita tuh plek ketiplek sama. Untung aja cara pandang dalam melihat sesuatunya beda. Lumayan lah bisa nutupin kesan nggak niat dari sudut pandang dari banyak orang ini.
Di samping itu, sifat atau karakter tiap tokoh yang digambarin sepanjang cerita patut diapresiasi. Soalnya detail banget cuy. Mulai dari pemilihan kata pas dialog yang punya ciri khas masing-masing, gestur khas tiap karakter yang beda-beda, sampai pola pikir tiap karakter yang berlainan dan digambarinnya tebel. Contohnya Charlie yang feminis mentok, Ryan yang punya jiwa pemimpin yang kuat, Tammi si nggak enakan, Gillian si legowo abis, Matty yang hobi memendam tiap masalah sendirian. Masing-masing punya alasan kuat buat punya pemikiran demikian.
Akhir cerita begitu bermakna
Gue kira bagian akhirnya bakalan flat-flat aja dan nggak meninggalkan kesan sama sekali. Soalnya dari bagian awal sampai menjelang akhir tuh yang dibahas kayak seputar masalah remaja doang, kayak kehidupan sekolah sama media sosial. Tapi menjelang akhir mulai muncul beberapa masalah lain seperti keluarga, pekerjaan, dan masa depan. Rentetan konflik yang dialami para tokoh terus mengalir sampai akhirnya menemukan akhir yang memberikan pelajaran penting bagi para remaja untuk bersikap lebih hati-hati dalam kehidupan.
Walaupun, sih, ada beberapa konflik yang rasanya masih ngegantung bahkan pas novel udah sampai halaman terakhir. Kayak masalah kaki Ryan yang dibikin cedera sama David sampai dia nggak bisa main sepak bola. Gue kira Ryan bakal konfrontasi ke David soalnya kan ada dialog nenek Ryan yang bilang kalo cucunya itu bakal meledak amarahnya ke David sewaktu-waktu. Tapi nggak kejadian juga tuh. Kayak yaudah aja Ryan dicederain sama temennya sendiri dan nggak ada marah-marahnya sama sekali. Aneh mengingat sepak bola adalah sesuatu yang paling disukai Ryan. Terus hubungan David sama Tammi yang nggak jelas ending-nya. Apakah Tammi akhirnya mau diajak “begituan”? Apakah Tammi nggak mau terus putus dari David? Hanya Tuhan dan sang penulis yang tahu akhir kisah cinta mereka.
The Yearbook Committee pada akhirnya menjadi buku dengan segudang kisah masa remaja yang di dalamnya terdapat suka duka serta pesan-pesan yang berharga bagi para remaja masa kini. Begitu beres baca buku ini gue langsung kangen masa sekolah. Karena buku ini ceritain kisah tahun terakhir SMA, jadi kebayang gimana kehidupan tahun terakhir gue di SMA. Sayangnya masa itu nggak berjalan seru kayak yang gue bayangin :)


Komentar
Posting Komentar